Ketika Kemaksiatan Merajalela dan Al-Qur’an Dihinakan, Apa yang Harus Ulama Lakukan?

Jumat, Oktober 14, 2016
0

Setiap orang yang berilmu pada saat itu harus bersuara. Ilmu dan kepandaiannya harus ditunjukkan untuk menjelaskan mana yang haq dan mana yang batil. Bukan dalam rangka unjuk kebolehan dan pamer kepandaian, melainkan dalam rangka agar ilmunya menjadi hujjah bagi seluruh alam di tengah-tengah kerusakan yang secara massive terjadi. Diriwayatkan dalam sebuah hadits Nabi SAW pernah mengingatkan dengan tegas serta ancaman yang cukup keras:

إِذَا حَدَثَ فِي أُمَّتِي الْبِدَعُ وَشُتِمَ أَصْحَابِي فَلْيُظْهِرِ الْعَالِمُ عِلْمَهُ فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ مِنْهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Apabila terjadi banyak perilaku bid’ah di tengah-tengah umatku, dan para sahabatku dicela, maka seorang yang berilmu haruslah menunjukkan ilmunya. Siapa di antara mereka yang tidak melakukan hal itu, maka ia akan mendapat laknat Allah, Malaikat, dan Manusia seluruhnya.” (HR. al-Ajurri dalam al-Syarî’ah)

Lihatlah dalam hadits tersebut, apa yang Rasulullah SAW perintahkan saat terjadi kerusakan di mana-mana dan para sahabat beliau dicela. Lihatlah saat ini, kerusakan yang bagaimana lagi yang ditunggu? Lihatlah apa yang dilecehkan oleh mulut-mulut kotor bau babi dan khomer akhir-akhir ini. Bukan lagi sahabat Nabi, melainkan al-Qur`an yang agung nan suci!

Para ulama panutan kami yang kami cintai karena Allah SWT. Kalian adalah pewaris para nabi, maka tentulah kalian memiliki amanah yang berat yang kurang lebih sama dengan mereka. Tidak cukup kiranya hanya dengan mengisi ceramah di majelis-majelis pengajian atau mimbar-mimbar khuthbah. Panjenengan harus keluar, turun ke rumah-rumah. Mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mengetuk pintu-pintu para jendral dan pemegang kekuatan, guna menyeru mereka untuk memberikan loyalitasnya kepada Islam dan penerapan hukum-hukumnya. Sebagaimana halnya Rasulullah saw melakukan Thalabun Nushrah bersama para sahabat yang mulia dahulu.

Kalian adalah kepercayaan Allah atas seluruh manusia. Diriwayatkan Rasulullah SAW pernah bersabda:
العلماء أمناء الله على خلقه
“Para ulama adalah manusia-manusia kepercayaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.”

al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh al-Imam al-Munawi dalam Faidh al-Qadir mengatakan:

وإن كانوا أمناء الله على خلقه فيجب أن يتكفل كل عالم بإقليم أو بلد أو محلة أو مسجد بتعليم أهلها دينهم وتمييز ما يضرهم عما ينفعهم وما يشقيهم عما يسعدهم ولا ينبغي أن يصبر إلى أن يسأل بل يتصدى لدعوة الناس إلى نفسه فإنهم ورثة الأنبياء وهم لم يتركوا الناس على جهلهم بل كانوا ينادونهم في الجامع ويدورون على دورهم في الابتداء ويطلبون واحدا بعد واحد فيرشدونهم فإن مرضى القلوب لا يعرفون مرضهم كما أن من ظهر على وجهه برص ولا مرآة له لا يعرف برصه ما لم يعرفه غيره وهذا فرض عين على العلماء
“Jika mereka adalah orang-orang kepercayaan Allah atas segenap makhluknya, maka wajib bagi setiap orang ulama untuk mengurusi suatu distrik, daerah, kampung, atau masjid dengan mengajari penduduknya agama mereka. Membedakan apa yang membahayakan mereka dari apa yang bermanfaat bagi mereka. Apa yang dapat menjadikan mereka sengsara dari apa yang dapat menjadikan mereka bahagia. Dan tidak sepantasnya ia bersabar menunggu untuk ditanya, melainkan hendaknya ia selalu melakukan dakwah menyeru mereka agar mengikuti dirinya. Karena para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak pernah membiarkan manusia dalam kebodohan mereka. Melainkan mereka menyeru manusia di tempat perkumpulan. Bergerilya ke rumah-rumah mereka di awal kalinya. Merekrut satu demi satu masyarakat lalu membimbing mereka. Karena orang-orang yang hatinya sakit tidaklah menyadari perihal sakit diri mereka. Sebagaimana orang yang tampak belang di wajahnya sementara dirinya tidak memiliki kaca cermin. Ia tidak akan dapat mengetahui belangnya selama tidak diberitahu oleh orang lain. Dan tugas ini adalah Fardhu ‘Ayn atas para ulama.”

Para ulama lah benteng terakhir kebaikan umat ini. Di tangan merekalah pangkal perubahan menuju keadaan yang lebih baik akan dapat berlangsung. Sebagaimana al-Imam al-Ghazali katakan:

إنما فساد الرعية بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء فلولا القضاة السوء والعلماء السوء لقل فساد الملوك خوفاً من إنكارهم
“Rusaknya rakyat itu semata-mata karena rusaknya para penguasa, dan rusaknya para penguasa itu tidak lain karena rusaknya para ulama. Kalaulah bukan karena adalah para qadhi yang jahat dan ulama yang jahat, niscaya akan sedikit kerusakan pada para penguasa lantaran takut akan mendapatkan penentangna dari mereka.”

Haibah para ulama terletak pada sensornya terhadap kemungkaran dan keberaniannya dalam mengingkarinya. Maka keberanian Rasulullah SAW dan para sahabat adalah sebaik-baik contoh. Para ulama yang ikhlas, dalam menyampaikan kebenaran mereka tidak takut kehilangan jabatan. Tidak khawatir ditinggal jama’ahnya. Tidak galau akan dihapus namanya dari jadwal khutbah di masjid-masjid. Tidak takut hinaan orang-orang yang menghina. Tidak takut kehilangan harta bahkan nyawanya sekalipun. Saat al-Imam Ahmad bin Hambal ditawari untuk bertaqiyyah dalam menghadapi fitnah paksaan mengakui al-Qur`an itu makhluk, beliau dengan lantang berkata:

لو قال العالم تقية والجاهل يجهل فمتى يعرف الناس الحق
“Jika orang yang berilmu itu bertutur kata dengan taqiyyah (tidak sebenarnya demi keselamatan dirinya –penj.), sementara orang bodoh dalam ketidaktahuannya, lantas kapan manusia akan melihat kebenaran?”

Mari rapatkan barisan, menjadi penjaga dan pembela Islam yang terpercaya. Hingga agama ini diunggulkan dari agama-agama yang lain, dengan diterapkannya syari’at Islam dalam seluruh sendi kehidupan dalam wadah Khilafah Islamiyyah. Walaupun orang-orang musyrik tidak ada yang suka, walau orang-orang munafik tidak ada yang suka.
اللهم انصر من نصر الدين ...

#TangkapAhok
#HukumMatiAhok

0 comments:

Posting Komentar